Resensi   

Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa

Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa


Judul Buku
:
Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa
Penulis
:
Dr. M. Bambang Pranowo
Penerbit :
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan
:
Mei, 1998
Tebal
:
xiv + 138 halaman
Ukuran
:
15, 6 x 24 cm


Islam dan dinamika masyarakatnya di Indonesia selalu menarik untuk dikaji. Sudah puluhan bahkan ratusan artikel, opini, atau buku yang menulis tentang Islam, salah satunya buku di hadapan Anda ini. Buku berjudul Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa karya Dr. M. Bambang Pranowo ini adalah salah satu buku kajian tentang Islam yang cukup menarik untuk dibaca. Tema-tema kajian dalam buku ini merupakan bagian dari penelitian untuk tesis dan disertasi penulis.

Secara umum, buku ini mengupas Islam bukan dari sisi ajarannya, melainkan dari gerak dinamikanya di masyarakat pedesaan dan kota. Pembahasan isi buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama mengupas tentang Islam dan tradisi di mana di dalamnya dikaji tentang tradisi besar dan tradisi kecil (h. 3), agama dan kebudayaan (h. 17), dari politik gincu ke politik garam (h. 23), partai politik dan Islamisasi di pedesaan (h. 37), dan Islam tradisional di pedesaan Jawa kontemporer (h. 53). Tema-tema ini memberikan pesan bahwa Islam memiliki sumbangsih yang besar terhadapnya bertahannya kesenian dan kebudayaan rakyat.

Bagian kedua mengupas tentang Islam dan relasi kuasa. Penulis mengkaji tentang tarekat Islam dan perilaku ekonomi (h. 77), Cina, Islam dan integrasi nasional (h. 85), kelas menengah muslim dan pergeseran politik di Indonesia (h. 103), ajaran-ajaran sesat: sebuah pengalaman (h. 123), dan naiknya peranan politik santri (129). Tema-tema bagian ini memberikan pesan bahwa Islam dalam tataran tertentu justru menjadi alat yang digunakan untuk menancapkan kekuasaan politik.

Mencermati tema-tema itu, buku ini masih cukup aktual untuk zaman sekarang dan semakin penting untuk dibaca. Bagi Anda penyuka kajian Islam dan politik, tentunya penting untuk membaca buku ini. Sebagai hasil penelitian lapangan, buku ini cukup kredibel dan seimbang.

Islam Tradisional dan Modern

Istilah tradisional dan modern sebenarnya belum tentu tepat untuk menggambarkan Islam yang sesungguhnya, karena Islam dan dinamikanya di masyarakat lebih kompleks dari istilah tersebut. Namun demikian, istilah yang berasal dari peneliti barat ini ternyata juga banyak digunakan oleh cendekiawan muslim. Akibatnya, istilah ini semakin menemukan maksudnya meskipun belum tentu sesuai.

Istilah tradisional dan modern merujuk pada perilaku umat Islam di pedesaan dan perkotaan. Di pedesaan, Islam biasa diistilahkan dengan Islam tradisional dengan indikasi adanya berbagai macam ritual. Wajah Islam tradisional umumnya dianggap sebagai wajah Islam yang berwarna dan merakyat karena perilaku Islam banyak dipengaruhi oleh tradisi rakyatnya. Clifford Geertz mengidentifikasikannya dengan kategori abangan, santri, dan priyayi.

Sebaliknya, Islam di kota disebut Islam modern di mana wajah Islam banyak dipengaruhi oleh pemikiran, intelektual, pengetahuan, dan budaya modern. Islam wajah modern ini banyak berkelindan dengan berbagai kegiatan sosial masyarakat kota, salah satunya politik. Dalam konteks ini, Islam memiliki kuasa yang berelasi, atau sengaja direlasikan, oleh orang yang berkuasa dan berkepentingan terhadap Islam.

Akan tetapi, sebenarnya kedua wajah Islam tersebut ada di masyarakat pedesaan maupun perkotaan. Hal ini disebabkan oleh adanya persebaran kelompok abangan, santri, dan priyayi ke berbagai tempat. Mereka bertransformasi ke berbagai lembaga sosial dan politik. Tidak jarang Islam dijadikan kendaraan untuk menggapai keinginan pribadi atau kelompok. Namun, sebagian lagi menganggap itu berpengaruh positif terhadap perkembangan Islam. Dari sisi ini, buku ini semakin menarik untuk dikaji.

(Yusuf Efendi/Res/73/07-2011)

Read: 8034
Ke atas | Desktop Version
Design by Mobifreaks.com